Demak, 25 Juli 2025 – Kondisi banjir rob yang terus menggenangi wilayah Sayung, Demak, mulai membuat warga keletihan secara fisik maupun mental. Genangan air laut yang tidak kunjung surut sejak beberapa hari terakhir berdampak pada kehidupan harian masyarakat, terutama di desa-desa pesisir seperti Sriwulan, Bedono, dan Surodadi.
Setiap hari, warga harus berjalan melewati air setinggi betis hingga paha untuk beraktivitas. Banyak yang harus menggulung celana, membawa sepatu cadangan, atau bahkan terpaksa tidak keluar rumah karena akses jalan terputus akibat air rob.
“Capek sekali, tiap hari harus bersihkan rumah dari air dan lumpur. Tidur pun tidak tenang karena takut air naik tengah malam,” keluh Sumarti (45), warga Sriwulan.
Dampak paling terasa dirasakan oleh anak-anak dan lansia. Aktivitas belajar terganggu karena sekolah sulit dijangkau. Banyak orang tua terpaksa tidak mengizinkan anak-anak mereka berangkat sekolah karena takut terpeleset atau jatuh sakit akibat air kotor yang terus menggenang.
Warga juga mengaku mulai mengalami gangguan kesehatan seperti gatal-gatal, kaki gatal akibat jamur, hingga infeksi saluran pernapasan akibat udara lembap dan bau tidak sedap. Beberapa warga bahkan mulai mengeluhkan kurangnya obat-obatan dan tidak adanya pos kesehatan keliling.
“Kami butuh bantuan lebih dari sekadar makanan. Kami butuh obat, alat pengering, dan perhatian pemerintah yang serius,” ujar Rofiq, tokoh masyarakat di Desa Bedono.
Meskipun bantuan logistik mulai berdatangan dari BPBD dan relawan, namun upaya jangka panjang seperti perbaikan tanggul, pembangunan drainase, atau pemindahan pemukiman dinilai warga masih belum terlihat jelas. Harapan warga kini tertumpu pada komitmen pemerintah dalam mengatasi rob yang semakin parah dari waktu ke waktu.
Komentar
Posting Komentar