Demak, 25 Juli 2025 – Banjir rob yang melanda wilayah pesisir Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, kembali menimbulkan kekhawatiran warga. Sudah hampir sepekan air laut pasang terus merendam sejumlah desa seperti Sriwulan, Bedono, dan Timbulsloko tanpa tanda-tanda surut yang signifikan.
Fenomena rob kali ini disebut-sebut sebagai yang terparah dalam beberapa bulan terakhir. Air laut naik ke daratan sejak dini hari dan tetap bertahan hingga malam hari, menyebabkan aktivitas warga terganggu, termasuk sekolah, perdagangan, dan pekerjaan nelayan.
“Kami sudah terbiasa dengan rob, tapi kali ini airnya lebih tinggi dan lama sekali surutnya. Biasanya sehari bisa surut, ini sudah lima hari masih tergenang,” ujar Supriyono (53), warga Desa Bedono.
Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Demak, genangan rob kali ini mencapai kedalaman antara 30 hingga 70 sentimeter di beberapa titik. Selain mengganggu aktivitas, rob ini juga menyebabkan kerusakan pada infrastruktur seperti jalan, selokan, dan rumah warga.
Pemerintah daerah melalui BPBD dan Dinas PUPR sudah menyalurkan bantuan darurat berupa makanan siap saji, air bersih, serta pompa air untuk membantu percepatan penyedotan genangan. Namun, rob yang terjadi bersifat harian akibat pasang air laut, sehingga pemulihan menjadi sulit dilakukan secara permanen.
Ahli klimatologi Universitas Diponegoro, Dr. Widiarto, menyebutkan bahwa perubahan iklim dan penurunan muka tanah (land subsidence) di wilayah pesisir utara Jawa, termasuk Sayung, memperparah dampak rob. “Tanpa intervensi infrastruktur jangka panjang seperti tanggul laut atau relokasi, Sayung akan terus menjadi langganan rob,” jelasnya.
Warga kini hanya berharap bantuan segera turun dan solusi permanen segera diwujudkan. “Kami ingin hidup tenang, tidak waswas setiap malam air masuk ke rumah,” kata Sriatun, ibu rumah tangga yang rumahnya terendam rob setinggi lutut.
Komentar
Posting Komentar