Semarang, 5 Mei 2025 — Di sudut Taman Bangetayu, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, sebuah gerobak biru sederhana berdiri kokoh di bawah payung besar yang menaunginya dari panas dan hujan. Dikelola oleh seorang ibu berjilbab merah, gerobak ini menjadi tempat menggantung harapan — menjual aneka kebutuhan harian mulai dari kopi sachet, minuman instan, camilan ringan, hingga air galon eceran.
Suasana taman yang ramai menjadi peluang tersendiri bagi pelaku UMKM seperti beliau. Berjualan dari pagi hingga sore, ibu ini menjadi bagian penting dari denyut ekonomi mikro di kawasan Bangetayu, yang tetap hidup meski di tengah gempuran minimarket modern.
“Kebanyakan pelanggan itu orang yang lewat, anak-anak sekolah, atau orang tua yang duduk-duduk di taman. Kalau sore lebih ramai karena banyak yang bawa anak-anak main,” ujar sang pedagang yang enggan disebut namanya.
Di belakangnya, tampak jajaran motor parkir, para pembeli yang lalu lalang, dan penjual kaki lima lain yang turut memanfaatkan lahan sekitar taman. Deretan barang dagangan disusun rapi di gantungan plastik yang menggantung di depan gerobak, menunjukkan kerapian meski di ruang terbatas. Tidak jauh dari gerobak tersebut, terlihat juga penjual gorengan dan minuman keliling, menciptakan ekosistem UMKM kecil yang saling berdampingan.
Taman Bangetayu sendiri menjadi tempat favorit warga sekitar untuk bersantai di sore hari. Ruang terbuka hijau ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, tetapi juga menjadi ruang ekonomi rakyat yang sangat berarti bagi para pelaku usaha mikro.
Sayangnya, belum semua pelaku UMKM di kawasan ini mendapatkan dukungan resmi atau pendampingan dari pemerintah daerah. Beberapa di antaranya belum memiliki izin usaha atau akses ke pelatihan digitalisasi dan pemasaran yang saat ini penting untuk bertahan di era modern.
Melalui potret sederhana seperti ini, kita diingatkan bahwa UMKM bukan sekadar soal berdagang, tetapi tentang ketahanan, harapan, dan kerja keras. Mereka adalah wajah dari ekonomi kerakyatan yang nyata — yang bertahan bukan karena modal besar, tetapi karena semangat yang tak pernah padam.
Komentar
Posting Komentar