GAZA, 25 Juli 2025 – Bencana kemanusiaan di Jalur Gaza mencapai titik kritis. Selama tiga hari terakhir, Kompleks Medis Al-Shifa mencatat 21 anak meninggal akibat kelaparan, termasuk beberapa balita dan anak berkebutuhan khusus. Kondisi ini kian memperparah krisis yang telah berlangsung hampir dua tahun sejak agresi Israel dimulai.
Di antara korban kelaparan adalah Yousef al-Safadi, Abd al-Jawad al-Ghalban (16 tahun), dan Ahmad Hasanat, serta seorang wanita difabel bernama Raheel Rosros (32 tahun). Direktur Al-Shifa, Mahmoud Abu Salmiya, memperingatkan bahwa 900.000 anak kini menderita kelaparan, dan sekitar 70.000 di antaranya berada dalam kondisi malnutrisi akut.
Kelaparan terjadi akibat blokade ketat Israel yang membatasi masuknya bantuan makanan dan medis. Pengepungan tersebut menghalangi bahkan bantuan kemanusiaan paling dasar, menyebabkan harga makanan melambung. Satu kilogram tepung kini mencapai 120 shekel (Rp 560 ribu), sedangkan segelas minyak goreng dihargai 70 shekel (Rp 320 ribu).
Ayah dari Raheel Rosros mengungkapkan kekecewaannya, “Tidak ada satu pun negara Arab atau Muslim yang peduli pada kami. Umat Islam mengkhianati kami.” Kesaksian serupa disampaikan keluarga korban lainnya. Mereka kini lebih takut pada kelaparan daripada bom dan peluru.
Meski PBB telah memperingatkan bahwa lebih dari dua juta warga Gaza menghadapi kelaparan, upaya internasional untuk membuka jalur bantuan masih menemui kebuntuan. Sementara itu, aktivis Israel sendiri melakukan aksi protes di Tel Aviv, menuntut diakhirinya blokade yang menyebabkan kelaparan massal.
Menurut Marwa al-Ghalban, ibunda dari Abd al-Jawad, anaknya terakhir makan dengan layak saat Ramadhan bulan Maret. Sejak itu, kondisi kesehatannya memburuk drastis hingga tubuhnya menyusut menjadi hanya 12 kilogram.
Krisis ini tidak hanya soal politik, tetapi menyangkut hak dasar untuk hidup. Warga Gaza menyerukan gencatan senjata dan masuknya bantuan kemanusiaan segera, namun suara mereka seolah tak didengar. “Dunia menutup mata. Tidak ada yang berdiri bersama kami kecuali Allah,” kata Muhammad Rosros, lirih.
Komentar
Posting Komentar